Sabtu, 22 November 2008

kepada yang terindah


–Kepada yang terindah–

Bukan seperti kematian untuk mu, tetapi sebuah cinta yang pasti…
setiap kau layangkan pandang kepada nostalgia semuanya menjadi begitu buram,
kau hanya berkata, itu semua tinggal kenangan….
ku katakan padamu bukan nostalgia a
twpun kenangan… ini adalah moment yang pasti tentang cinta,tidak akan pernah menjadi kenangan, dimana air mata berbicara begitu derasnya sebagai duta dari lubuk hati…

bukankah janji itu adalah hutang yang harus terbayar? itulah yang membuat ku tidak mau berubah walau sedikit… kita telah bersatu didalam janji, dimana langit telah menyaksikan, dan menaungi kita dibawah bintang-bintang yang berlinang air mata haru, jiwa kami sebagai maharnya…

semuanya membasahi sukma yang sedang bercinta…. berpagut dengan alunan simfoni kehidupan… jiwa mana yang mau pergi dari surga ini? aku tetap disini menanti kehadiran mu di depan gerbang mahligai,tak pedulikan siapapun bahkan dirimu sendiri…

jangan pernah kau kubur semua cinta, dekaplah didalam sukma sehingga ia terus berdiri tegak dan abadi…Cinta memang harus dimiliki, tetapi banyak yang tidak mengetahui caranya… bicara cinta yang memberikan ku mata kepada logika… sama sekali tidak membutakan, jika kau berpegang kepada janjimu…

kepada yang terindah, rumah mu ada disini bersama ku dimana tidak ada secarik kain dan sejengkal benang pun yang membatasi, benar-benar telanjang bulat di dalam cumbuan kehidupan cinta, kita telah bersatu…

Rabu, 12 November 2008

the short history of dreadlock



THE SHORT HISTORY OF DREADLOCK

BY: CULTURE
From Wikipedia, the free encyclopedia



Dreadlocks, also called locks or dreads, are interlocked coils of hair which form by themselves, in all hair types, if the hair is allowed to grow naturally without grooming for a long period of time. Dreadlocks are associated most closely with the Rastafari movement.


The first known examples of dreadlocks date back to ancient dynastic Egypt. Examples of Egyptians wearing locked hairstyles and wigs have appeared on bas-reliefs, statuary and other artifacts. Mummified remains of ancient Egyptians with locks, as well as locked wigs, also have been recovered from archaeological sites.The Hindu deity Shiva and his followers were described in the scriptures as wearing "jaTaa", meaning "twisted locks of hair", probably derived from the Dravidian word "caTai", which means to twist or to wrap.The Greeks, the Pacific Ocean peoples,the Naga people and several ascetic groups within various major religions have at times worn their hair in locks, these include the Nazirites of Judaism, the Sadhus of Hinduism, the Dervishes of Islam and the Coptic Monks of Christianity, among others. The very earliest Christians also may have worn this hairstyle.Particularly noteworthy are descriptions of James the Just, first Bishop of Jerusalem, who wore them to his ankles.Locks may have also been part of Mesoamerican culture before the 16th century Spanish conquest.
In Senegal, the Baye Fall, followers of the Mouride movement, a sect of Islam indigenous to the country which was founded in 1887 by Shaykh Aamadu Bàmba Mbàkke, are famous for growing locks and wearing multi-colored gowns. Cheikh Ibra Fall, founder of the Baye Fall school of the Mouride Brotherhood, claims that he was "the first dread in West Africa".


In Jamaica the term dreadlocks was first recorded in the 1950s as a term for the "Young Black Faith", an early sect of the Rastafari which began among the marginalized poor of Jamaica in the 1930s, when they ceased to copy the particular hair style of Haile Selassie I of Ethiopia and began to wear dreadlocks instead. It was said that the wearer lived a "dread" life or a life in which he feared God, which gave birth to the modern name 'dreadlocks' for this ancient style.
Most Rastafari still attribute their dreadlocks to Selassie as well as the three Nazarite vows, in the Book of Numbers, the fourth of the books of the Pentateuch.
All the days of the vow of his separation there shall no razor come upon his head: until the days be fulfilled, in the which he separateth himself unto the LORD, he shall be holy, and shall let the locks of the hair of his head grow. (Numbers 6:5, KJV)
Nazarites for life who wore locks and were mentioned in the Bible include the Nazarites Samuel, John the Baptist, and probably the most famous biblical figure with locked hair, Samson, who, according to scripture, had seven locks and lost his great strength when they were cut.

keimanan dan realitas




KEIMANAN DAN REALITAS


Hz. Mirza Tahir Ahmad, Khalifah ke 4 Jemaat Ahmadiyah pada beberapa pertemuan memberikan kesempatan kepada orang-orang dari berbagai keyakinan dan kepercayaan untuk menyampaikan pertanyaan yang mereka miliki. Yang ditulis dibawah ini adalah sebuah catatan dari jawaban beliau terhadap sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan masalah keimanan dan realitas pada sebuah pertemuan yang diadakan pada tanggal 12 Mei 1996 di Masjid London.


Penanya :Pertanyaan saya adalah tentang keimanan dan realitas. Banyak agama di dalam sistem keimanan mereka mengharuskan penganut agamanya mengamalkan eksistensi tuhan. Hal ini menunjukan bahwa keimanan itu pada dasarnya adalah kepercayaan terhadap yang gaib, kepercayaan terhadap hal yang tidak diketahui, dan yang menjadi kesulitan saya dalam memahami hal ini adalah bagaimana seseorang pindah dari posisi ‘mempercayai’ menjadi ‘mengamalkan kenyataan adanya Tuhan’? Dimanakah keimanan itu berakhir dan dimana realitas itu dimulai?

Hz. Mirza Tahir Ahmad:Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat menarik dan harus dijawab dengan mengacu kepada pertanyaan yang timbul pada masa Renaissance dan bagaimana pula filsuf Inggeris secara umum menjawab pertanyaan tersebut tetapi saya harus kembali agak jauh. Ini adalah sebuah kenyataan pada abad ke 13 seorang filsuf yang berkebangsaan Inggeris yang bernama John Scotus pertama kali mempertanyakan hal ini, yang alangkah mengherankannya, ia adalah seorang yang beriman. Untuk mendukung kepercayaannya dia menganggap bahwa rasionalitas dan alasan mempunyai batas yang tipis dengan keimanan, tetapi dia tidak memisahkan keimanan itu didalam area supernatural atau khayalan. Apa yang dia katakan cukup logis. Dia menganggap bahwa bahwa keimanan itu meresap begitu dalam dan begitu besar ke dalam pandangan, pikiran dan hati manusia, sehingga orang-orang yang meniliki keimanan dapat melakukan pengorbanan untuk hal tersebut.Pada awalnya keimanan harus meamiliki alasan yang tepat untuk mendukungnya. Pasti ada sesuatu sehingga generasi pertama dari sebuah agama tidak memperoleh keteguhan dalam keimanan mereka semata-mata dari khayalan. Daya rasional mereka bagaimanapun tidak terlihat meyakinkan jika dilihat dari masa yang jauh, contohnya dari masa sekarang. Generasi-generasi(pada awal sebuah agama) mempercayai hal-hal yang telah mereka saksikan jika telah didukung sepenuhnya oleh bukti-bukti, bukti yang pada waktu itu dianggap sebagai bukti yang sesuai. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, aspek dari bukti-bukti tersebut menghilang tetapi elemen dari keimanan tetap berlanjut. Melalui masa-masa yang berbeda, keimanan berkembang dengan diuji dari waktu ke waktu oleh realita baru yang muncul dan ketika realita tersebut menguji keimanan, seseorang harus menguji dengan kepala dingin pro dan kontra dari kedua sisi dan jika logika menolak keyakinan maka keimanan harus ditolak dan logika harus diadopsi. Setelah mempelajari filosofi dari pemikir eropa berkenaan dengan agama, wahyu, logika dan rasionalitas, saya mendapat kesimpulan bahwa pandangan Scotus sangat mengagumkan dan didasari oleh rasa sosial.Inilah patokannya. Seseorang tidak akan mempercayai sesuatu kecuali jika memiliki alasan untuk mempercayainya. Tanpa alasan yang dapat dipercaya, keimanan hanyalah sebuah fantasi belaka dan tidak dapat menghadapi ujian dari waktu. Ini adalah faktor yang sangat penting yang harus dipahami oleh seseorang.Saya sekarang menuju tingkatan yang selanjutnya, pada masa yang datang setelah permulaan sebuah agama. Apa yang terjadi sekarang adalah tidak ada aturan logika, alasan atau rasional pada keimanan kebanyakan orang. Mereka mewarisi keimanan, dan jika manusia telah mewarisi keimanan ada dua tipe manusia yang muncul yaitu orang-orang yang cenderung kearah sebelah ”kanan” dan orang-orang yang cenderung ke sebelah “kiri” ketika mereka yang sadar akan kenyataan bahwa keimanan tidak bisa bertentangan dengan realita, tidak menemukan hubungan antara keimanan mereka dengan kenyataan, mereka cenderung kearah “kiri” dan berkata bahwa ini semua adalah sihir/keajaiban, atau walaupun mereka tidak mengatakannya dalam perkataan, praktek kehidupan mereka tidak dipengaruhi oleh agama. Keimanan bukanlah hal yang penting bagi mereka.Mereka yang cenderung ke arah “kanan” adalah orang-orang yang tidak mampu memaknai pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mendalam dan hasilnya mereka tetap mengikuti arus dari generasi ke generasi. Keimanan tetap ada pada mereka, dengan kukuh dipegang tetapi tidak berakar karena keimanannya tidak memiliki hubungan dengan akal pikiran mereka tetapi ketika pilihan muncul antara benar dan salah, banyak orang yang selalu memilih yang salah karena ketika keimanan yang tidak mempunyai dasar bertabrakan dengan keinginan pribadi kebanyakan orang maka kesenangan pribadi tersebut lebih dipilih. Hal ini menyebabkan kemerosotan moral yang terus-menerus pada orang-orang dan tiba suatu saat ketika keimanan lenyap dari kepala orang-orang ketika ia tidak mempengaruhi perilaku manusia. Setiap keyakinan telah mencapai tingkatan ini, secara keseluruhan, kehilangan kekuatannya atas cara hidup manusia. Kemudian datang peraturan dari para pemuka agama - di setiap agama - bukan hanya di Kristen. Sekarang mereka membuat suatu kesepakatan pada situasi ini antara dua hal. Mereka berkata “Baiklah, selama kamu tidak mengganti namanya, selama kamu tetap di dalam pengawasanku hal itu baik-baik saja lakukanlah apa yang kamu suka. Kami akan menutup mata kami terhadap cara hidupmu tetapi jangan melawan doktrin secara umum dan terbuka. Jika kamu melakukannya maka kamu akan dihukum”. Ini adalah awalnya, tetapi kekhawatiran ini juga mulai menjadi kenyataan dan kemudian penentangan-penentangan secara terbuka mulai muncul dan gereja menarik diri lebih jauh. Orang-orang masih menjadi umat kristen, mereka tidak menjadi umat muslim atau hindu ataupun umat yang lainnya. Pendeta kemudian mengatakan, “Jika kamu tidak ingin dekat ke gereja, tidak masalah asalkan kamu masih seorang kristen yang baik, kekristenan adalah jiwa, bukan sebuah bentuk. Kamu harus mempercayai jiwa kekeristenan dan berusaha menjadi baik terhadap manusia, itu saja”. Jadi aturan-aturan agama mulai memudar, menghilang dan menjadi hal yang langka – hanya sebuah nilai yang tidak berdasar. Lebih baik jika kamu dapat mengambil nilai-nilai tersebut tanpa pengorbanan pribadi. Tetapi, bagaimanapun masih ada beberapa orang yang dapat memegang nilai-nilai tersebut dan juga memberikan pengorbanan tapi hanya sedikit. Mereka adalah orang yang memelihara keimanan.Pada prinsipnya saya setuju dengan Scotus. Ini juga pandangan pribadi saya jika keimanan dipisahkan dari pendirian yang mendasar maka ia akan kehilangan rasionalitasnya. Sekarang, pendirian dan keyakinan itu berbeda. Apa yang saya maksud dengan pendirian adalah keyakinan yang berdasar pada akal pikiran dan rasionalitas. Keyakinan ini menghasilkan pendirian.Jadi, keyakinan itu pada dasarnya adalah pendirian, bukan hanya keyakinan belaka. Secara bertahap hal tersebut disebut keimanan karena kehilangan sentuhan dengan realita dan mulai menjauh. Tetapi di dalam literarur agama tentu saja anda dapat menyebutnya (pendirian) ‘keimanan’ tetapi disana keimanan adalah selalu sebagai nama lain dari pendirian, pada awalnya. Sekarang, karena hampir semua agama-agama besar telah menyimpang jauh dari sumbernya, saya ragu jika doktrin agama dapat mengatur perilaku manusia kecuali doktrin tersebut bersifat keras dan objeknya bukan agama dan ketuhanan melainkan politik. Hal tersebut hanya memiliki pengaruh terhadap masalah-masalah manusia, selama objeknya adalah materi, untuk mendapatkan kebanggaan atas nama persatuan agama hal-hal keduniaan sebagai contohnya,. Disini bukanlah ketuhanan yang bekerja, tetapi ego nasional, ego rasial dan sebagainya yang mengambil alih dan hal itu terbungkus di dalam jubah agama dan nama baiknya. Agama kehilangan nilainya dan tanda nyata dari hal tersebut adalah ketika para pemuka agama mengajak orang-orang untuk berbuat kerusuhan, penganiayaan, pembunuhan atau sabotase mereka menanggapinya. Tetapi ketika mereka diajak kepada hal-hal yang baik, untuk memperhatikan orang-orang miskin dan memberikan seluruh pengorbanan dijalan kebaikan, mereka tetap diam.

Selasa, 11 November 2008

BERGEMBIRALAH DI HARI RAYA IED

BERGEMBIRALAH DI HARI RAYA IED:

BERGEMBIRALAH !?

Zaman musibah yang menimpa Islam zaman sekarang ini tidak perlu dijelaskan lagi, semua telah memakluminya. Orang-orang yang memusuhi Islam sedang melakukan kegiatan dari setiap penjuru. Keadaan Islam pada zaman sekarang seperti seorang anak kecil yang masih meminum susu ibunya. Ianya tergeletak ditengah hutan rimba dikelilingi binatang-binatang buas yang siap untuk menerkamnya. Oleh sebab itu, hari ini bukanlah hari bergembira-ria bagi orang orang mukmin hakiki. Orang-orang dungu boleh-boleh saja begembira-ria, menuruti kehendak nafsu mereka. Akan tetapi orang-orang yang tahu pasti situasi Islam zaman sekarang, mereka tidak akan merasa gembira. Persatuan ummat Islam masih harus diperjuangkan dengan giat dibawah naungan Jama’at Imam Zaman, dan persaudaraan antar sesama ummat Islam atau ukhuwah Islamiyah masih harus ditegakkan. Keikhlasan untuk mengurbankan harta dan jiwa ummat Islam secara global masih harus dibina. Jadi, kegembiraan hakiki baru akan
dirasakan apabila semua perkara itu telah diperoleh dan ummat Islam telah menyerahkan segala apa yang mereka miliki di jalan Tuhan tanpa ragu.
Jadi, orang yang ragu dan tidak rela menyerahkan jiwa dan harta mereka dijalan Tuhan, mereka tidak punya alasan untuk bergembira ria pada hari Ied ini. Sebagai misal, jika seorang ibu mempunyai anak sakit terbaring diatas tempat tidur, dan ianya tidak pernah membelanjakan wangnya untuk mengobati anaknya itu, apakah ia bisa memperoleh kegembiraan? Atau seorang lelaki mempunyai isteri terbaring sakit diatas tempat tidur, lalu suaminya itu pergi meninggalkannya dalam keadaan demikian tanpa ikhtiar mengobatinya dengan membelanjakan wangnya. Apakah ianya akan merasa gembira? Tentu tidak, sama-sekali tidak akan merasa gembira. Lalu bagaimana dengan umat Islam zaman sekarang, apakah hari ini telah menjadi kesempatan untuk bergembira-ria bagi mereka, sedangkan Islam sendiri dalam keadaan musibah dan sangat lemah dan miskin karena tidak mempunyai seorang pemimpin yang bertanggung- jawab untuk menjaga dan mengurus-nya?
Jadi, selama Islam tidak mempunyai persatuan dan kesatuan dan tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan yang penuh dan sempurna, siapa pun tidak mempunyai rasa gembira sepenuhnya pada hari ini. Kita baru akan memperoleh kegembiraan yang sempurna dan hakiki, apabila Islam sudah betul-betul kuat dan telah tersebar ke seluruh pelosok dunia dan apabila kita semua telah menjadi para pewaris karunia dan nikmat-nikmat Allah swt.

(Dari Khutbah Imam Jama’at Ahmadiyah 1335H)

Nasib orang-orang Suci: Dibuat susah oleh Ulama-ulama

Nasib orang-orang Suci: Dibuat susah oleh Ulama-ulama



Bismillahirrahmanir rahiim

Firman Allah SWT dalam Surat Asy Syuaraa’ (26):

Satu peringatan dan contoh kepada kaum/ bangsa yang mendustakan Rasul Allah.


A tabnuuna bi kulli ni’in aayatan ta’batsuun.

Apakah kamu mendirikan diatas setiap tanah yang tinggi bangunan yang sia-sia? (26:128)


Wa tattakhidzuuna mashaani’a la’alla-kum takhluduun.

Dan kamu mendirikan istana-istana seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya? (26:129)

Itulah kaum Ad, bangsa yang pernah berkuasa, yang gagah dan perkasa serta tinggi peradabannya; tetapi di manakah mereka itu sekarang?

Kaum ‘Ad adalah bangsa yang pernah berkuasa, gagah perkasa dan beradab. Suku bangsa Iram sebagai cabang dari Suku bangsa ‘Ad mempunyai kerajaan yang kuat, yang dapat bertahan samapi tahun 500 Sebelum Masehi, yang berada di daerah Yaman (Adramitai). Kerjaaan Aramik mencakup seluruh Mesopotamia, Palestina, Siria dan Chaldea; bahasa Arami(k) dekat pada bahasa Ibrani.

Mereka telah mencapai kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan di zaman mereka. Mereka telah membangun kubu-kubu, istana-istana dan waduk-waduk raksasa. Mereka memiliki tempat-tempat peristirahatan, pabrik-pabrik dan bengkel mekanis. Mereka sangat istimewa dan maju sekali dalam seni bangunan arsitektur. Mereka menggunakan senjata-senjata perang yang baru, mendirikan tugu-tugu raksasa. Pendek kata seperti Bangsa Barat dewasa ini, mereka memiliki sarana-sarana kehidupan serba pelik yang patut dimiliki oleh bangsa yang sangat tinggi peradabannya. Mereka meraih kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka lalu menjadi lengah terhadap ajaran luhur dari sejarah, dengan cita-cita yang tinggi dan ahlak serta budi pekerti yang baik, yang takut dan takwa kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Lalu karena ahlak mereka menjadi rusak dan keruhanian mereka pun menjadi mundur. Mereka menutup telinga terhadap peringatan-peringat an dari Nabi-nabi mereka untuk mengubah tingkah lakunya. Mereka menjadi mangsa dari laknat yang mengerikan, mereka mengalami nasib yang tidak bisa di-elakkan karena mereka menganggap sepi akan peringatan dari Tuhan.

Yaitu, dikarenakan mereka itu:

Kadzdzabat ‘aadunil mursaliin.

Kaum Ad telah mendustakan Rasul-rasul Allah! (26:123)

Mendustakan kepada Rasul akhir zaman adalah sama saja dengan mendustakan juga kepada Rasul Allah, yakni Yang Mulia Nabi Muhammad saw. yang telah menubuatkan tentang kedatangan Nabi di zaman yang akhir ini.

Jadi, beruntunglah bahwa kaum bangsa Republik ini tidak semua orangnya mendustakan Rasul-rasul Allah, atau bahkan boleh dikatakan hanya sedikit saja orang yang memerangi dan memusuhi Nabi Allah ini, sehingga insya Allah kaum/ bangsa ini tidak akan mengalami nasib buruk seperti kaum ‘Ad, satu kaum atau bangsa yang pernah berkuasa, makmur-sejahtera dan berperadaban tinggi, lalu menghilang dari sejarah, hilang ditelan bumi.

Nabi-nabi Allah dan pengikutnya, serta orang-orang suci dan para Wali pun mengalami nasib dibuat susah oleh ulama-ulama; contohnya dari sejarah:

Kepada Hadhrat Imam Abu Hanifah orang-orang menyusahkan beliau; ada yang mengatakan beliau itu bodoh, zindiq (heretic / bid’ah) dan sebagainya; malah beliau dimasukkan ke dalam penjara dan akhirnya diberi racun sehingga wafat di dalam penjara itu juga.

Demikian hal kepada Hadhrat Imam Syafi’i, yang bernama Abu Abdullah Muhammad bin Idris, yang ketika berusia 7 tahun sudah hafal Alqur-aan. Pada masa hidupnya, oleh Ulama-ulama Mesir dan Iraq Yaman dan Baqdad, beliau dituduh dengan bermacam-macam fitnah dan dihina-hinakan; mereka menyeret beliau dengan rantai sehingga beribu-ribu orang memaki-maki beliau dan mengatakan beliau itu “adarru min’l iblis” yang artinya lebih berbahaya daripada iblis.

Akan tetapi Tuan-tuan sekarang mengetahui betapa besar kehormatan dan pujian orang-orang terhadap Imam Syafi’i, sedangkan nama Ulama-ulama, orang yang biasa memaki beliau itu sama sekali hilang lenyap dari muka bumi.

Lihatlah juga Imam Malik; sampai dalam masa 25 tahun lamanya beliau tidak bisa keluar pergi untuk bersembahyang Jum’at dan akhirnya beliau dijerumuskan ke dalam penjara dengan mendapat pukulan rotan sebanyak 70 kali.

Hadhrat Ahmad Ibni Hambal pun sampai dipenjara juga; orang-orang memukuli beliau dan meludahi mukanya; pada setiap waktu maghrib beliau mendapat pukulan sedangkan kakinya dirantai dengan rantai besi yang berat sekali.

Saudara juga boleh pelajari, bgaimana: Imam Muhammad Ibni Ismail Bukhari, bagaimana orang-orang menyusahkan beliau dengan bermacam-macam makian sampai akhirnya beliau diusir dari Bukhara, hingga pada suatu waktu di dalam sembahyang Tahajjud-nya beliau berdoa kepada Allah begini:

“Ya Tuhan, sesungguhnya telah sempitlah bumi ini bagiku meskipun keadaannya sendiri adalah luas; maka ambillah aku kepada Engkau.”

Demikian halnya kepada Hadhrat Aldul Qadir Jailani dan Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi; Ulama-ulama memberi fatwa mereka dikafirkan dan supaya mereka dimaki-maki oleh orang banyak.

Orang-orang yang mulia tersebut, seperti halnya Imam Zaman ini, yang mendapat kesusahan yang hebat itu, adalah orang yang pekerjaannya, yang bekerja memelihara agama Allah dan menjaga pelajaran Islam, supaya orang-orang tidak terjerumus ke dalam neraka jahannam.


Gerakan Rastafari


Gerakan Rastafari

Rasta, atau Gerakan Rastafari, adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari untuk Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar. Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus Garvey, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru. Gerakan ini kadang-kadang disebut "Rastafarianisme"; namun hal ini dianggap tidak pantas dan menyinggung perasaan banyak kaum Rasta.

Gerakan Rastafari telah menyebar di berbagai tempat did unia, terutama melalui imigrasi dan minatnya dilahirkan oleh musik Nyahbinghi dan reggae —khususnya musik Bob Marley, yang dibaptiskan dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal, sebuah langkah yang juga diambil belakangan oleh jandanya, Rita. Pada tahun 2000, ada lebih dari satu juta Rastafari di seluruh dunia. Sekitar 5-10% dari penduduk Jamaika mengidentifikasikan dirinya sebagai Rastafari. Kebanyakan kaum Rastafari vegetarian atau hanya memakan jenis-jenis daging tertentu. Di AS ada banyak sekali restoran vegetarian Hindia Barat, yang menyediakan makanan Jamaika.

Zarathustra Dan Ajarannya


Zarathustra Dan Ajarannya
Muhammad Yusuf Khan – Inggris
Review of Religion, Agustus 1996



Sejarah manusia mengupas secara terus menerus dan tak hentinya pertentangan dan
peperangan antara kekuatan kebaikan dan kekuatan kejahatan. Saat kebanyakan
manusia berubah menjadi bermoral buruk dan melanggar kedisplinan etika/susila.
Ketika kekayaan membuat sebagian orang melakukan pelanggaran dan berlindung
dibalik kekuatan politik dan menyebarkan ketidakamananan, serta kosong dari
norma-norma sosial dalam masyarakat dan melakukan gangguan perdamaian dan
keamanan disekitarnya. Dalam situasi seperti itu hanya seorang manusia yang luar
biasa baik dan memiliki kemampuan rohani saja yang dapat menyelamatkan dan
menghilangkan pengaruh buruk yang telah tersebar ke setiap penjuru bumi ini.
Sang Penyelamat atau lebih dikenal dengan sebutan Sang Reformer, pemberi
peringatan, utusan atau nabi yang ditunjuk oleh Tuhan Yang Maha Agung dengan
membawa misi suci akan membimbing manusia ke jalan yang benar. Dia akan
menganjurkan orang-orang untuk berbuat amal kebaikan, mencegah mereka dari
menyakiti orang lain dan dari perbuatan-perbuatan dosa serta mengajak mereka
untuk menyembah Allah, Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
Al – Quran Suci sehubungan dengan ini menyatakan sebagai berikut :
“Dan Kami telah bangkitkan dari antara manusia seorang utusan yang menyeru
“Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (pelampau batas)!” Surah An – Nahl
(16:17).
Berkaitan dengan pemikiran yang disebut di sini. Seorang Penulis Barat Thomas
Carlyle menulis :
“Hadiah paling berharga yang dapat langit berikan kepada bumi adalah
seorang laki-laki yang jenius, sebagaimana kita memanggilnya; ruh seorang
laki-laki yang benar-benar dikirim dari langit beserta amanat Tuhan untuk kita
(manusia). Inilah amanat yang telah kita sia – siakan seperti halnya membuang
patung – patung berhala ke perapian, yang menimbulkan sedikit kebingungan lalu
kita menghilangkannya bagaikan debu, hancur dan tak dapat diharapkan; seperti
itu pulalah penerimaan terhadap manusia agung yang aku tidak memanggilnya selain
kesempurnaan.”
Seorang laki –laki jenius yang dianugerahkan kepada bumi oleh Tuhan Yang
Maha Besar pada jaman dahulu, adalah Zarathustra (nama latinnya Zoroaster)
beliau adalah pendiri ajaran Zoroasterisme di Persia.
Saya memilih topik Zarathustra dan ajarannya untuk study ini karena beliau
telah disebut sebagai yang pertama kali memperkenalkan kebijaksanaan ketimuran
di Eropa dan disebutkan bahwa Zoroasterisme merupakan agama tertua diantara
agama – agama yang telah diturunkan di dunia. Selain itu Zoroaster lebih umum
dikenal sebagai nabi nasional Persia (sekarang Iran) yang telah membentuk bagian
penting dari kepopuleran Timur Tengah yang juga disebut “Cradle of ancient
civilisations (tempat awal kependudukan masyarakat purbakala).”
Zoroasterisme (juga diberi nama Madyanisme dan Parseisme di India dan Pakistan
) meski muncul sebelum Islam di Iran namun saat ini yang bertahan disana hanya
minoritas yang menempati area – area terisolasi dan terpencil dari populasi
yang lebih luas. Orang –orang Zoroaster adalah pendiri dari sebuah kerajaan
besar dan untuk beberapa abad kependudukan mereka berkembang di bawah tiga
kaisar besar Persia : Achaemenian, Parthian dan Sassanian. Saat ini populasi
mereka di dunia menurun hanya tinggal sekitar 140.000 jiwa yang tersebar di
seluruh dunia . Kelompok besar dari anggota komunitas ini hanya sekitar 82.000
jiwa yang menempati Bombay (India) dan sekitar 3000 jiwa berada di Karachi
(Pakistan), namun mereka memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Kelompok-kelompok kecil mereka telah berdiri di berbagai pusat hampir di seluruh
kota – kota penting di barat. Kekuatan dunia para pengikut Zoroaster saat ini
diketahui telah menurun secara perlahan karena meningkatnya jumlah perkawinan
keluar komunitas tersebut dan karena angka kelahirannya yang rendah. Terlebih
lagi ajaran ini tertutup bagi orang-orang luar yaitu adanya konversi/
penggabungan dari agama – agama lain tidak diijinkan.
Sebelum menjelaskan tentang kehidupan dan ajaran – ajaran Zarathustra serta
kepercayaannya, penting sekali menampilkan latar belakang sejarah orang –
orangnya, wilayah serta lingkungan – lingkungannya yang membuat agama ini
pernah berkembang dan sukses.
Latar belakang Sejarah
Akar sejarah perkembangan orang – orang Persia atau khususnya para penganut
Zoroster masih menjadi pertanyaan yang sepenuhnya belum terungkap. Seperti telah
disebutkan sejarah agama ini bermula pada suatu waktu di tahun milenium ke –
tiga bersamaan dengan masa orang – orang Indo – Eropa. Yaitu sekitar tahun
3000 SM, ada sebuah kelompok dari antara suku- suku yang berada di daerah dekat
Eropa Timur yang mulai terpecah. Beberapa mereka mengembara ke selatan dan
tinggal di Yunani dan Roma, sedang yang lainnya meneruskan perjalanannya ke
selatan dan menetap di Skandinavia. Juga kelompok yang lainnya telah
menggembalakan ternak mereka di padang luas di Caspia timur sekitar tahun 2000
SM. Di sana orang – orang tersebut membangun tempat tinggal untuk sewaktu –
waktu dan menamakan diri mereka Arya (Arian) yang berarti yang memiliki
kedudukan tinggi. Namun para cendekiawan hanya menyebut mereka keturunan Indo
– Iran. Sekitar tahun 1800 SM mereka terpecah lagi menjadi 2 kelompok dan
mengadakan perjalanan ke daerah bagian timur dalam dua gelombang. Gelombang
pertama melewati Persia bagian utara dan meninggalkan beberapa penduduknya di
sana, serta membawa sebagian besarnya ke India Timur. Sedangkan gelombang kedua
bermukim di Persia.
Secara umum di ketahui bahwa Medes dan Persia adalah dua kelompok Arya yang
menduduki dan bermukim di Iran selama beberapa abad termasuk mereka yang tinggal
di sana tak lama setelah tahun 1500 SM. Medes adalah Arya pertama yang memiliki
pengaruh di Asia Barat. Pada saat itu yaitu abad ke – 8 SM kekuatan mereka
paling besar.
Berkenaan dengan kondisi keagamaan saat kekuasaan Medes, ada sekelompok pendeta
yang memaksakan pengaruhnya dengan melakukan evolusi agama , mereka disebut kaum
magis. Mereka memiliki kekuatan secara politik dan sosial, mereka melakukan
ritual ketat yaitu mempersembahkan pengorbanan –pengorbanan kepada dewa –
dewa, menafsirkan mimpi –mimpi, membaca mantera – mantera pengusir setan dan
membunuh makhluk – makhluk yang tidak mereka sukai serta diikuti
tindakkan-tindakkan lainnya yang buruk. Mereka tidak memiliki kecocokan dengan
Achaemian. Dan pada masa kekuasaan Darius berlangsung wibawa mereka benar –
benar jatuh. Mereka (para pendeta) yang intelektual memilih menerima ajaran
Zoroaster dan setuju dengan pembagian kelasnya. Pada akhir masa Darius mereka
mengatur rencana memasuki dunia politik dan melakukan hierarki keagamaan serta
berusaha memperoleh kembali status sosial mereka.
Orang – orang Persia menghubungkan sejarah masa lalunya dengan nenek moyang
mereka yang di sebut Achaemenes. Cyrus II yang adalah keturunan generasi kelima
Achaemenes dan merupakan seorang pangeran muda Fars (Bahasa latinnya Peris
berasal dari “parsee dan akar kata Persian), meruntuhkann Medes pada tahun 550
SM dan mendirikan dinasti Achaemenid ( 550 – 330 SM ). Beliau berhasil
menaklukan seluruh wilayah Asia mulai dari batas India hingga Yunani.
Kerajaannya terbentang dari India melewati Mesopotamia (Irak) hingga Syria
kanaan. Beliau berhasil mempersatukan rakyat di wilayahnya dengan aturan yang
dibuatnya, meski mereka memiliki budaya – budaya yang berbeda, kepercayaan
berbeda dan berbicara dengan bahasa yang berbeda pula. Beliau juga menerima adat
istiadat yang muncul dan menghormati kebudayaan daerah serta menghargai semua
dewa – dewa dari rakyat yang berada di wilayah kerajaannya.
Al – Quran Suci ( Surah Al – Kahfi, ayat 84 – 99 ) menyebutkan bahwa
Zulkarnaen adalah seorang hamba Allah yang saleh dan diberkati dengan wahyu –
wahyu. Beliau digambarkan sebagai seorang penakluk, seorang pemimpin yang baik
dan adil dan disebutkan pula bahwa beliau memperlakukan negara – negara di
bawah kekuasaannya dengan baik dan penuh pertolongan. Dan terakhir disebutkan
bahwa beliau tiba di suatu daerah pertengahan dimana orang – orang tak beradab
dan Gog dan Magog melakukan kekacauan. Bible setuju dengan semua fakta itu pula
secara khusus disebutkan dalam Al – Quran tentang Zulkarnaen dan hal – hal
tersebut menunjuk kepada Raja Cyrus. Maka tak lain dan tak bukan Cyrus II
menurut Al – Quran adalah Zulkarnaen.
Sepeninggal Cyrus II, ekspedisi – ekspedisi militernya dilanjutkan oleh
putranya Cambyses II (529 – 522 SM) dan keturunan-keturunan penerusnya adalah
Darius (522-486 SM), Xerxes (486-465 SM), Artaxerses (465-425 SM). Namun pada
masa kekuasaan Artaxerses meski berlangsung selama 50 tahun, namun
revolusi-revolusi banyak muncul di Mesir dan daerah-daerah taklukan lainnya dan
pula terjadi peperangan dengan negara-negara di Yunani yang muncul dan berhenti
selama kurun waktu yang panjang. Akibatnya secara perlahan terjadi kehancuran di
dalam kerajaan Achaemenid. Pada saat penobatan Artaxerses III (359-338 SM) ke
kursi kerajaan, batas-batas kerajaan terdekat yang telah didirikan hanya bisa
bertahan sementara. Pada masa pemerintahan Darius III Kerajaan ini akhirnya
runtuh di tangan Alexander (336-331 SM), setelah melewati peperangan yang
menentukan antara mereka di timur Sungai Tigris di Padang Karbela. Darius
dipaksa untuk melarikan diri dan akhirnya terbunuh. Angkatan perangnya
diistirahatkan ke timur dan mereka membiarkan saja ketika Alexander Agung
menjadi penguasa Asia.
Terkadang sebelum peristiwa-peristiwa ini terjadi, kemunculan Zarathustra telah
disebut-sebut. Namun dimana dan kapan munculnya masih menjadi bahan diskusi
dalam paragraf berikutnya.
Zarathustra (yang berarti dia cahaya emas) adalah pendiri agama Persia kuno
Zoroasterisme yang dikenal dengan nama Zoroaster di barat. Berasal dari Bahasa
Latin Zoroasters dan dalam Bahasa Yunani disebut Zorastres. Kitab suci agama ini
Avesta, menyebut sebutan Zarathustra secara konsisten, sementara di dalam versi
Pahlavi nama itu adalah Zaratusht dan dalam Bahasa Persia modern beliau disebut
dengan nama Zardusht, Zartusht ataupun Zarathust.
Tanggal Kelahiran
Tanggal kelahiran beliau yang tepat masih menjadi perdebatan. Para penulis
klasik Yunani, menghubungkan hal tersebut dengan sejarah pribadi-pribadi penting
seperti Aristoteles, Hermodorus dan Xanthust (abad ke-5 SM). Plutarch (kira-kira
th. 46-120 M, menempatkan nama Zoroaster lebih awal dari th 6000 SM. Eudoxus
(kira-kira th. 365 SM)menyebutkan hal itu menjadi 6000 tahun sebelum kematian
Plato (347 SM). Beberapa ahli sejarah menempatkannya pada kurun waktu antara th
1750 SM dan th. 1000 SM, khususnya ketika Persia keluar dari jaman batu.
Sedangkan Al-Biruni (973-1048 M) telah menulis tanggal berharga tentang
kemunculan Zarathustra yaitu pada tahun 1000 SM, apakah itu tanggal kelahiran
atau tanggal kemunculan beliau setelah menerima wahyu-wahyu, masih merupakan hal
yang membutuhkan interpretasi. Menurut kepercayaan para pengikut Zoroaster,
beliau muncul 258 tahun sebelum Alexander yaitu saat jatuhnya Persepolis,
ibukota kerajaan Achaemenid pada tahun 330 SM. Yang berarti beliau muncul pada
tahun 558 SM. Zoroaster berusia 42 tahun ketika Raja Vishtaspa (bahasa Yunaninya
Hystaspes) yaitu raja dari Chorasmia menjadi pengikutnya. Dan pendirinya sendiri
(Zarathustra) hidup selama 70 tahun (sebagaimana terbukti). Juga secara
tradisional dipercaya bahwa filusuf Yunani yakni Phytagoras belajar bersamanya.
Tanggal kelahirannya diperkirakan jatuh antara tahun 628-551 SM), meski pendapat
ini tidak diterima oleh para cendekiawan modern.
Tempat Kelahiran
Tempat kelahirannya juga menjadi kontroversi lain. Beberapa orang menyebut
beliau orang Iran Kuno; sedangkan yang lainnya menyatakan bahwa beliau asli
orang Rhages, Rayy modern yaitu sebuah wilayah di pedalaman Teheran. Seorang
cendekiawan Iran menyatakan bahwa tempat kelahirannya menurut Avesta adalah
tepat di tepian Sungai Dareja di Airyana Vaejah. Sekarang diketahui Dareja
adalah Araxes (Seyhoon di Persia) yang terletak di Transoxiana dekat perbatasan
barat daya (north west) Media. Seorang pengarang Islam Sharastani (1086-1153 M)
dan at-Tabri (kira- kira th. 839-923 M) menyatakan tempat kelahiran Zarathustra
di Iran Barat. Para penulis Arab , Ibnu Hurdadhbah (kira-kira th. 816 M) dan
Yaqut (kira-kira th. 1220 M) menyatakan dengan jelas Urmiah (sekarang disebut
Rizajeh) di Shiz yaitu distrik Azarbaijan sebagai tempat kelahiran Zoroaster.
Berdasar fakta itulah bukti penanggalan otentik biografi beliau masih sedikit.
Mungkin bisa disimpulkan bahwa Zarathustra lahir di Iran di akhir abad ke-7 atau
awal abad ke-6 SM bersamaan dengan masa berlangsungnya kekaisaran Persia dibawah
pimpinan Cyrus II (550-330 SM).
Zarahustra adalah keturunan gelombang pertama Indo-Iran. Mata pencaharian
Penduduknya adalah bertani. Ayahnya bernama Pourushaspa memiliki hubungan
kekerabatan dengan keluarga Ksatria Spitama yang merupakan generasi ke 45 dari
Gayomart manusia pertama (seperti halnya Adam). Ibunya bernama Dughdova berasal
dari Marga Hvogva.
Masa kecil dan masa kehidupan selanjutnya Zarathustra dipercaya kaya akan
keajaiban. Disebutkan bahwa beliau lahir dalam keadaan tertawa bukannya
menangis. Juga diceritakan saat beliau masih kecil telah terhindar dari banyak
ujian dalam kehidupannya dengan bantuan binatang-binatang besar. Pada suatu
kejadian seekor kerbau berdiri melindunginya dari injakan kaki-kaki kuda ternak.
Juga ada diceritakan saat seekor kuda betina melindunginya dari injakan
kuda-kuda lainnya. Pada saat lainnya seekor serigala bukan menerkam bahkan
membiarkan beliau begitu saja diantara anak- anaknya. (Beberapa pengikut modern
ajaran ini tidak menganggap hal-hal tersebut secara serius).
Disebutkan Zarathustra telah menikah tiga kali, (perkawinan poligaminya ditolak
oleh para pengikut Zoroaster). Beliau memiliki tiga orang puteri dan seorang
anak laki-laki dari isteri pertamanya, memiliki dua orang putera dari isteri
keduanya dan dari isteri ketiga beliau tidak memiliki anak.
Tradisi-tradisi selanjutnya mempercayai bahwa beliau diajari menjadi seorang
pendeta. Di dalam Gathas beliau menyebut dirinya sebagai Zaotar yaitu seorang
pendeta yang benar-benar berkualitas. Menurut orang-orang Indo-Iran pengajaran
tersebut dimulai pada saat beliau berusia 7 tahun dan dilakukan secara lisan,
pada saat orang-orang zaman tersebut belum mengenal ilmu baca tulis. Beliau
kemungkinan telah menjadi pendeta pada usia 15 tahun yang menurut orang-orang
Iran pada jaman itu usia tersebut adalah usia matang. Beliau mempelajari semua
hal sedapat mungkin seperti tentang misteri penciptaan dan realita kehidupan.
Rasa ingin tahu beliau membuatnya tidak cepat merasa puas akan sesuatu hal.
Namun wahyu telah membimbing beliau untuk meditasi dan intropeksi diri. Beliau
bermaksud memahami dan mengerti tentang peranan manusia sebagai makhluk ciptaan.
Beliau meninggalkan rumah pada usia 20 tahun dan kepergian beliau tersebut
bertentangan dengan kehendak orang tuanya. Diceritakan beliau pergi ke
pegunungan. Beliau menginginkan jiwa beliau dalam kesunyian. Beliau selama
bertahun-tahun melakukan perjalanan mencari kebenaran, terbimbing dengan
memiliki pikiran baik, penuh kesadaran dan cinta kasih. Dalam syairnya
disebutkan bahwa selama perjalanan, beliau harus menyaksikan tindakkan
kekerasan. Beliau menyadari ketidakberdayaannya, tapi memiliki perhatian
mendalam terhadap keadilan, penegakkan hukum moral yang setara baik bagi yang
kuat maupun yang lemah, hingga semua bisa mengikuti jalan kebaikan di kehidupan
ini dengan penuh kedamaian dan ketenangan.
Dengan keinginan kuat dan kekhawatirannya akan mencari kebenaran, pada saat
hari mulai gelap, dengan berdiri di depan matahari tenggelam beliau berkata :
(terdapat pada hal 3 – 4)
Engkau wahai bintang besar! Kemanakah kebahagiaan engkau yang tanpa
kebahagiaan itu untuk apa lagi engkau bersinar!
Sepuluh tahun sudah aku mendaki disini di guaku:
akankan engkau lelah dengan sinarmu dan lelah dengan jalan yang bukan
untukku, elangku ataupun ularku.
Namun kami menantimu tiap pagi dan mengambil milikmu yang sangat melimpah
juga berkatmu.
Wahai! Aku lelah dengan kebijaksanaanku yang seperti lebah menghimpun
terlalu banyak madu; Aku membutuhkan tangan-tangan merentang untuk mengambilnya.
Untuk itu aku harus memberi dan mengedarkannya hingga kearifan kembali
bersatu diantara manusia di dalam kenaifan mereka dan kemiskinan kekayaan
mereka.
Pada akhirnya aku harus turun ke kedalaman: seperti halnya engkau berbaring
pada hari yang gelap, meski saat engkau tenggelam di balik laut, dan membawa
cahaya ke dunia bawah tanah, engkau adalah tetap bintang yang paling dermawan!
Seperti halnya engkau, aku harus turun dan mengatakan kepada manusia yang
untuknya aku akan turun.
Berkati aku dengan mata tenangmu yang melihat tanpa iri dengki malahan
dengan rasa gembira yan sangat!
Berkati aku dengan mangkuk yang menumpahkan airnya, hingga menjadi banjir
emas, membawa pantulan kebahagiaan yang banyak kemana saja mengalir!
Wahai! Mangkuk ini harus kembali kosong dan Zarathustra harus kembali
menjadi manusia. Lalu mulailah Zarahustra turun.
Menurut kepercayaan, Zarathustra menghabiskan waktu 10 tahunnya dalam pencarian
ini. Ketika beliau berusia 30 tahun yaitu saat beliau memiliki kebijaksanaan
yang matang, pandangan rohani (mimpi) diperlihatkan kepada beliau . Cerita
tentang hal tersebut sampai kepada kita lewat tradisi-tradisi/ kepercayaan,
(GAHAS (Yasna 43) dan Isi Pahlavi (Zadspram ZZ-XXI) berbunyi berikut ini :
Zarathustra berada dalam suatu perayaan festival musim semi, saat matahari
terbenam beliau mengambil air ke sungai untuk ritual suci. Pada saat beliau
berjalan kembali dari tengah sungai menuju pinggiran sungai beliau melihat wujud
malaikat yang bercahaya di pinggiran sungai yang menyebut dirinya sebagai Vohu
Manah (bertujuan baik atau berniat baik). Zarathustra dibimbing oleh Wujud
tersebut yang tak lain merupakan Perwujudan lain Ahura Mazda (Tuhan yang bijak)
dan oleh lima wujud cahaya abadi. Sebelumnya beliau tidak melihat bayangannya
sendiri sangat berkilauan di atas permukaan bumi kemudian menerima wahyu. Beliau
diajari tentang prinsip-prinsip utama kebenaran atau agama kebaikan. Saat itulah
pertama kalinya beliau melihat Ahura Madza dan menyadari keberadaan-Nya saat
firman-firman – Nya (panggilan tugas) diperdengarkan kepada beliau. Tentang
hal ini beliau menyatakan:
Karena itulah aku menjadi bagian dari mu dari permulaan.(Yasna 44.11)
Selagi aku masih memiliki kekuasaan dan kekuatan, aku akan ajarkan manusia
untuk mencari kebenaran asha (aturan, kebenaran dan keadilan ). (Yasna 28.4)
Tentang kebenaran wahyu tersebut, beliau menerangkan:
Sungguh aku mempercayaimu wahai Ahura Madza. Engkau adalah pemberi rezeki yang
paling baik, saat Sraosha datang kepadaku dengan niat baik, saat pertama kalinya
aku menerima dan menjadi bijak dengan kata-kata-Mu. Dan meskipun tugas ini
berat, meski kesulitan datang menghadangku namun aku akan tetap umumkan kepada
umat manusia amanat-Mu yang telah dinyatakan sebagai yang terbaik. (Yasna 43)
Beliau berdoa kepada Madza:
Aku mohon kepada-Mu ceritakanlah kepadaku dengan sesungguhnya wahai Ahura
Madza! bahwa agama ini adalah yang terbaik untuk seluruh umat manusia. Agama
yang berdasar pada kebenaran yang akan mensejahterakan semuanya, agama yang
menetapkan perbuatan-perbuatan manusia berdasar peraturan dan hukum dengan
kesempurnaan kidung rohani suci. Agama yang memilki hasrat inteligensi, hasrat
akan Engkau wahai Madza. (Yasna 44.10)
Zarathustra diberi keyakinan bahwa dia adalah utusan Ahura Mazda, Tuhan Yang
Bijaksana, satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Beliau menentang semua
dewa-dewa orang-orang Vedic Iran serta beliau adalah penentang mitologi-mitologi
mereka, persembahan-persembahan korban serta upacara minum ritual Hoama dan
menentang semua yang dipersekutukan terhadap Ahura Mazda yaitu ahura-ahura dan
daeva-daeva lainnya dalam peperangan universal antara kebenaran dan kebatilan.
Zarathustra menyatakan bahwa Ahura Mazda adalah Azali (tidak tercipta), kekal
selamanya dan Dia adalah pencipta semuanya termasuk semua dewa-dewa lainnya.
Beliau yakin tentang kebijaksanaan, keadilan dan kebaikan yang mutlak terpisah
dari unsur kejahatan dan kezaliman.
Beliau menyatakan tentang keutamaan pengetahuan yang baru beliau dapatkan.
Beliau bersabda:
Saat aku membayangkan Engkau, wahai Mazda. Engkaulah yang awal dan Yang
akhir, Engkaulah satu-satunya yang patut disembah, sumber ajaran kebaikan,
pencipta kebenaran dan keadilan, hakim atas semua tindakan-tindakan kami di
dunia ini . Karenanya aku tempatkan engkau di hati sanubariku. (Yasna 31.8)
Dengan gejolak jiwa yang sebenarnya, beliau bersabda:
Karenanya aku umumkan yang paling agung dari semuanya! Aku rangkaikan
lagu-lagu pujian untuk-Nya melalui kebenaran, memberi pertolongan dan dermawan
kepada semua makhluk hidup. Biarkan Ahura Mazda mendengarkan mereka dengan ruh
suci – Nya.bq. Demi pikiran baik yang telah Tuhan perintahkan kepadaku yaitu
untuk memuja – Nya dan demi kearifan-Nya, biarkanlah Dia mengajariku apapun
yang terbaik. (Yasna 45.6)
Zarathustra melihat dalam pandangan rohaninya (kasyaf) seorang musuh yang
muncul bersama Ahura Madza, musuh itu memiliki ruh durjana yaitu Angra Mainyu,
yang dungu dan pemfitnah sesungguhnya.
Beliau menempatkan diri beliau sebagai musuh sejati para pengikut kedustaan dan
beliau adalah pendukung kuat para pengikut kebenaran. Karena ghairatnya kepada
Tuhan Yang Bijak, beliau sangat marah dan malu saat menyaksikan adanya
penyimpangan pada pelaksanaan upacara-upacara keagamaan. Beliau adalah pribadi
yang tidak kenal kompromi dengan hal-hal tersebut. Musuh kebenaran harus
dikalahkan dan ditaklukkan.
Zarathustra menentang para penyembah daeva-daeva yaitu sekelas dewa-dewa yang
dikenal secara umum oleh orang-orang Indian dan orang-orang Iran. Para pemimpin
musuh-musuh beliau adalah para kavis dan karapan/ sekasta dengan pendeta. Beliau
menentang tradisi-tradisi dan praktek-praktek keagamaan yang mereka lakukan.
Saat beliau mengumumkan misinya beliau mendapat tantangan keras dari musuh-musuh
beliau baik dari kalangan rakyat maupun para penguasa agama, seperti halnya apa
yang pernah dialami oleh nabi-nabi lainnya. Zarathustra menyadari kelemahan
beliau sendiri dan menyadari jika akan ada perlawanan terhadap ajarannya. Beliau
kecewa ketika karib kerabat dan sahabat-sahabat beliau menjauhinya, dan ini
meninggalkan duka yang mendalam di hatinya. Misi beliau dimulai ketika beliau
berusia 30 tahun dan dalam sepuluh tahun kehidupan beliau selanjutnya, beliau
hanya berhasil membai’atkan satu orang ke dalam ajarannya, yaitu saudara
sepupu beliau sendiri yang bernama Maidyoimah.
Di kampung halamannya sendiri (yaitu Chaychost), beliau tak henti-hentinya
dicaci maki. Beliau mengalami penderitaan yang tak beradab yang dilakukan oleh
para penentangnya baik dari kalangan bangsawan yang berkuasa maupun dari
kalangan para pendeta.
Karena hal ini, pada suatu ketika Zarathustra mengadu kepada Ahura Mazda:
“Tanah mana yang harus aku datangi? Kemanakah akan kuayunkan
langkah-langkah kakiku? Murid-muridku juga teman-temanku memisahkan diri dan
menjauh dariku. Tak satupun teman yang bisa membahagiakanku. Seluruh penguasa
mendukung kebatilan, lalu bagaimana aku bisa menyenangkan Ahura Madza.” (Yasna
46.1)
Tiba-tiba secercah sinar harapan muncul. Beliau tetap teguh dijalannya dan
bersikukuh pada misi yang beliau emban dan beliau yakin bahwa kebenaran akan
menang secara menyeluruh.
Aku hanya memilih ajaran-Mu,Tuhan.”(Yasna 46.2)
“Semua pujian akan selalu aku persembahkan untuk-Mu wahai Tuhan Yang
Bijak.” (Yasna 50.4)
Menurut kepercayaan Zoroaster, ada cerita tentang kesuksesan Zarathustra dalam
membai’atkan Raja Vishtaspa beserta kalangan istana kerajaan. Demikian
ceritanya:
Ketika beliau berusia 42 tahun, beliau beserta beberapa pengikut beliau
berhijrah meninggalkan kampung halaman dan bermigrasi ke Bacteria di Iran timur
(sekarang disebut Chorasmia). Disini beliau juga mendapatkan perlawanan dari
musuh-musuhnya. Berita tentang nabi baru terdengar oleh Kavi Vishtaspa yaitu
raja wilayah Balkh. Raja mengundang Zarathustra ke istananya untuk menerangkan
ajarannya. Raja juga mengundang para pendeta untuk berdiskusi. Raja Vishtaspa
berhasil diyakinkan tentang kebaikan ajaran Zoroaster. Raja ini tidak menyukai
para pendeta tradisional yang memusuhi Zarathustra, bahkan kemudian dia memeluk
agama baru tersebut yang jelas bertentangan dengan kehendak beberapa kalangan
istana.”
Dalam kisah lain diceritakan sebagai berikut:
Setelah 3 hari berlangsung perdebatan di dewan agung istana raja antara
Zarathustra dengan para kavis dan karapan yang tidak bersahabat, musuh-musuh
beliau ini merencanakan memasukkan beliau ke dalam penjara. Beliau tertahan
disana hingga beliau berhasil menarik perhatian Raja Vishtaspa. Zarathustra
berhasil menyembuhkan kuda kesayangan raja yang lumpuh. Karena keberhasilannya
ini maka Raja Vishtaspa, ratu beserta beberapa keluarga istana memeluk ajaran
Zarathustra dengan sepenuh hati. Peristiwa ini terjadi saat beliau berusia 42
tahun. Dan peristiwa ini merupakan pembuka jalan untuk penyebaran ajaran beliau
selanjutnya. Raja Vishtaspa tak hanya memeluk agama Zoroaster namun juga sang
raja membantu menyebarkan ajaran tersebut ke seluruh kerajaannya.
Meski Zoroaster tinggal di istana para bangsawan dan pada kenyataannya beliau
mendapat jaminan perlindungan dan dukungan istana, namun beliau tidak
mendapatkan ketenangan. Tekanan terus menerus dilakukan oleh sebagian
musuh-musuhnya. Di dalam Gathas diceritakan bahwa Zarathustra mencela tindakan
zalim para bangsawan dan pendeta yang menindas sesama manusia.
“Akankah kawan-kawanku datang membantuku menyebarkan ajaran-ajaran-Mu?
Kapankah kumpulan kedustaan busuk ini akan sirna? Yang dengannya para pendeta
memperdayai manusia dengan tipu daya mereka, yang dengannya pula para penguasa
yang bermoral buruk akan menguasai negeri dengan membawa serta niat buruknya?
“(Yasna 48.10)
Bertahan terhadap kesulitan-kesulitan besar, Zoroaster mengikrarkan keinginan
beliau untuk meneruskan menyebarkan kebenaran. Beliau yakin bahwa pekerjaan baik
yang seseorang lakukan akan menghasilkan hal yang baik bagi orang tersebut.
“Amanat-Mu, wahai Ahura Mazda! Akan sungguh-sungguh aku sampaikan dengan
kebijaksanaan. Nasib tidak baik akan menanti mereka yang berdosa sementara
cahaya kebenaran langit akan tetap turun; manusia sendiri akan berbahagia dan
memiliki kebijaksanaan menyebarkan firman-firman suci-Mu. (Yasna 50.8)
Zarathustra telah membentuk rasa persaudaraan di kalangan pengikutnya, yang
terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada tiga pengkategorian di antara para
pengikutnya, yaitu Xvaetu (berohani kuat), Verezena (pengikut setia) dan
Airyamna (sahabat).
Zarathustra menikahi Havovi yaitu saudara perempuan salah satu pengikut
Zarathustra yang bernama Frashaoshtra (dia adalah pemegang posisi tinggi di
istana Raja Vishtaspa). Sedangkan anak perempuan termuda Zarathustra dinikahi
oleh paman Havovi yang bernama Jamaspha ( dia adalah kepala penasehat Raja
Vishtaspa), yang juga tercatat sebagai pengikut awal ajaran Zarathustra.
Ketiga anak laki – laki Zarathustra menjalankan dan sekaligus mewakili ketiga
kelas sosial tersebut, yaitu para pendeta, prajurit dan petani.
Ketika Zarathustra mencapai usia 77 tahun yaitu setelah 47 tahun masa
kenabiannya, Madzaisme telah sukses berdiri namun pada masa itulah terjadi
pensyahidan terhadap beliau.
Diriwayatkan beliau wafat karena tindakan kekerasan. Beberapa riwayat
menceritakan beliau disyahidkan oleh salah seorang musuh ajaran beliau yang
bernama Turbatur, saat itu beliau sedang memberikan khutbah di Bacteria (Balkh).
Sumber lainnya menceritakan Bangsa Turanian menyerang Kota Balkh dan mereka
menghancurkan Kuil NUSH AZAR, beliau beserta beberapa pendeta dibunuh
orang-orang Turanian ketika beliau sedang memimpin upacara keagamaan di perapian
suci. Orang-orang Yunani yang sangat menghormati beliau menceritakan
kewafatannya bahwa beliau wafat karena sambaran cahaya atau api dari langit.
Kitab-kitab Suci Ajaran Zoroaster
Dikatakan bahwa agama ini hanya memiliki satu kitab suci yang disebut Avesta.
Itupun sekarang hanya tinggal beberapa bagian naskah saja. Menurut para penganut
Zoroaster yang berdialek Iran Timur dan dua orang ahli sejarah muslim pada abad
ke-20 dan abad ke-13, yaitu Tabari dan Mas’udi menyatakan bahwa keseluruhan
isi kitab Avesta telah ditulis dengan tinta emas di atas 12.000 lembaran kulit
sapi dan kitab ini pernah tersimpan di perpustakaan kerajaan yang terletak di
Istakhar atau tersimpan di hasanah kekayaan yang disebut Dizh-e-Niphist yang
terletak di Persepolis, namun itu terbakar habis saat terjadi invasi Alexander
Agung. Salinan kedua kitab ini dibawa ke Athena dan diterjemahkan ke dalam
Bahasa Yunani. Sabda-sabda Zarathustra dan para penerusnya kemungkinan telah
dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi.
Karena kondisi itu dan juga dikarenakan kekacauan yang timbul saat datang sang
penakluk, maka banyak tradisi-tradisi lisan harus hilang pula. Disebutkan bahwa
sepertiga isi kitab Avesta ini masih tersimpan di dalam memori para pengikut
Zarathustra saat itu.
Juga mengenai literatur-literatur tambahan lainnya mengalami dua kali kerusakan
yang tak dapat tergantikan. Yang pertama terjadi pada abad ke-7 yang dilakukan
oleh para penakluk Bangsa Arab dan berikutnya terjadi pada abad ke-12, yaitu
saat raja – raja Mongol datang dengan kekuatannya. Lebih dari sepertiga
literatur agama ini yang ada di masa Bangsa Sasania (yaitu era terakhir kekuatan
ajaran Zoroaster) mengalami kehancuran.
Beberapa Riwayat menyebutkan AVESTA terdiri dari 21 NASK (jilid). Ringkasan
jilid-jilid tersebut terangkum dalam kitab Pahlavi, yang disebut DENKERT.
Tertulis abad ke-9 M yang tampilannya sama seperti saat ini. Jilid-jilid
tersebut terbit dengan ukuran tebal.
Setelah terjadi pengusiran orang-orang Yunani oleh orang-orang Parthia, ajaran
Zoroaster bangkit kembali. Raja Volgeses memerintahkan pengumpulan bagian-bagian
AVESTA yang terserak. Pekerjaan ini dirampungkan oleh Tansar, yakni seorang
pendeta agung dari Ardeshir dan juga merupakan pendiri Dinasti Sassanian pada
th. 224 M. Pada waktu bersamaan penerjemahan AVESTA ke dalam Bahasa Pahlavi
dilanjutkan dan komentar-komentar ditambahkan pada kitab ini, yang selanjutnya
dikenal dengan nama ZEND AVESTA (Aza’nti dalam Bahasa Avesta dan disebut
Avestak-u-Zand dalam Bahasa Pahlavi). Tansar kemudian menyusun kembali Avesta
menjadi 3 bagian : GASSANIK ( Gathic atau puji-pujian ibadah ) HADHA MANSARIK (
campuran ajaran – ajaran kerohanian dan ajaran duniawi ) dan ketiga DATIK
(hukum).
Avesta masa kini terdiri dari 5 bagian:
“1. YASNA (penghormatan). Isinya berkaitan tentang penciptaan, wahyu,
hukum kekekalan, kebebasan memilih, tujuan hidup, keabadian ruh, hukum
konsekuensi dan pembaharuan dunia. Yasna terdiri dari 72 Haiti (bab) dan
mencakup 2 GATHAS.
GATHAS (puji – pujian rohani) adalah bagian otentik kitab AVESTA yang
paling sakral. Di dalamnya berisi cerminan ajaran Mazdaisme yang hakiki, agama
yang dianut dan diamalkan sejak diturunkannya di Iran timur.
Mazdaisme merupakan agama negara yang dianut sejak awal kekuasaan Achaemanian.
Seperti tersebut di dalam Gathas; Mazdaisme adalah agama terbaik selamanya.
Didalamnya tidak disebutkan tentang nabi – nabi lainnya selain Zoroaster.
Namun Gathas berbicara tentang SAOSHYANT (berarti orang – orang suci yang
memiliki misi memperbaiki dunia). Ribuan dari antara mereka termasuk Zoroaster
disebut SAOSHYANT. Kata SAOSHYANT dalam bentuk lain yaitu SOSHYOS muncul kembali
di dalam YOUNGER AVESTA yang berarti Sang Penyelamat Pilihan. Kata SAOSHYANT
juga telah digunakan oleh para cendekiawan yang berarti MASIH atau MAHDI seperti
telah tersebut dalam AGAMA – AGAMA IBRAHIM.
1. GATHAS PROPER (Gathas asli), terdiri dari bab 28 –34 dan bab 43 – 53
yang tertera dalam kitab YASNA. Gathas proper adalah bagian tertua dari kitab
AVESTA. Memiliki bahasa berbeda dengan bagian Avesta lainnya. Tidak berisikan
perintah – perintah namun berisikan bacaan – bacaan yang menginspirasi dan
penuh kecintaan yang ditujukan langsung kepada Tuhan. Isi Gathas ini berbentuk
puisi kuno yang sama dengan masa Indo – Eropa. 17 hymne (puji – pujian )
atau lagu –lagu ini digubah oleh Zarathustra dan merupakan bagian AVESTA yang
telah diwahyukan. Isi GATHAS ini diimani sepenuh hati oleh komunitasnya.
2. GATHAS HAPTANHAITI, atau 7 BAB, terdiri dari bab 35 hingga bab 42 yang
tertera pada Kitab Yasna. Disusun oleh para pengikut Zarathustra sepeninggal
beliau dalam bentuk prosa.
3. YASHT, berarti memuja – muja. Disusun dalam bentuk puji – pujian YAZATAS
(berarti satu – satunya yang di sembah). Kebanyakan YAZATAS tidak terdapat di
dalam GATHAS. Masalahnya Magis ( para pengikut Pra – ajaran Zoroaster ) telah
memasukan beberapa ajaran tersebut ke dalam ajaran Zoroaster dan berhasil
memperkenalkan beberapa dewa – dewa mereka dalam bentuk Yaztaz.
4. VISPRED, memiliki arti semua festival (perayaan). Terdiri dari 24 bab dan
memiliki kaitan dengan 6 perayaan musim Thansgiving yang disebut GAHANBAR.
5. VENDIDAD, berarti hukum yang menentang para demon ( ruh – ruh jahat ) dan
dewa-dewa palsu. Kitab ini juga banyak berisikan tentang aturan-aturan hygiene
(kesehatan).
6. KHORDEH AVESTA, bagian Avesta ini berbentuk bilingual dan berisi doa – doa
sehari – hari yang sebagian berbahasakan Persia. Isi Avesta ini menggambarkan
doa – doa orang – orang Sassanian dan orang – orang setelah bangsa
Sassanian.
Bagian selebihnya AVESTA disebut YOUNGER AVESTA. Ini berbeda dengan 2 GATHAS
lainnya dan telah tersusun dalam kurun waktu yang berbeda, berbahasa Iran timur
dan tersusun lama setelah mangkatnya Zarathustra. Ajaran – ajaran Zarathustra
telah dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi lalu ditulis selama masa
kekuasaan orang – orang Sassanian Persia Tengah, tulisan ini disebut Pahlavi.
Kitab –kitab PAHLAVI memiliki kaitan dengan sumber – sumber berbahasakan
Avesta dan kitab – kitab ini memiliki kunci – kunci bernilai tak terhingga
untuk menginterpretasikan kandungan – kandungan GATHAS dan merupakan kunci
bahan study ajaran – ajaran Zoroaster. Kebanyakan teks – teks PAHLAVI
bernilai scholar dan informatif dengan sentuhan kekayaan filsafat. Beberapa isi
kitab ini telah memberikan pengaruh terhadap ajaran filsafat Islam Syiah di Iran
namun tidak mencerminkan ajaran Zoroaster ortodox. Kebanyakan dari kitab
–kitab ini disusun beberapa abad setelah runtuhnya kekuasaan Sassania. Yakni
penyusunannya berada dalam situasi yang tidak bagus. Namun kitab – kitab ini
setidak – tidaknya merefleksikan kepercayaan – kepercayaan dan pendapat –
pendapat para penyusunnya.
Teks – teks PAHLAVI terbagi menjadi :
1. Versi PAHLAVI berteks AVESTA, yaitu Pahlavi Yasna, Pahlavi Vispred dan
Pahlavi Yasht. Teks – teks ini memiliki nilai agama yang sama dengan bagian
– bagian Avesta asli.
2. AVESTA campuran dan teks – teks PAHLAVI seperti Afrini – Dahman,
memiliki kemurnian yang sama dengan kitab – kitab PAHLAVI. Di dalamnya di
bahas tentang masalah – masalah filosofi, hygiene dan hukum serta hal – hal
seputar agama. Isinya tidak seortodoks doktrin –doktrin ajaran Zoroaster.
Berikut ini adalah beberapa kitab Pahlavi :
1. DINKARN
Sebuah koleksi menarik, berisikan informasi keagamaan, sejarah, geografi,
hukum dan medis.
2. MATIKAN – i – HIZAR DADISTAN
Sebuah risalah hukum perorangan dan peradilan era sassania yang didasarkan
pada putusan – putusan beberapa hakim.
3. SHIKAND GUMANI VIJAR
Sebuah kitab ilmiah berisikan filsafat agama. Membahas kebaikan dan
kejahatan dalam kerangka Zoroasterisme yang luas dan bagian – bagian tertentu
dalam kitab ini berisikan penolakan terhadap doktrin tertentu kaum Yahudi,
Manichaean dan Kristen.
4. BUNDAHISN
Ini adalah kitab yang lain dari kategori yang telah tersebut di atas.
Berisi kemurnian dan dasar penciptaan seperti halnya eschatogy ( ilmu tentang
akhirat ).
5. MINOK – KHRAD, sebuah kitab etik yang berisi beberapa cerita –
cerita legenda.
6. SHAYAST – la – SHAYAST atau Pahlavi Rivayat, membahas masalah dosa,
cara menangani mayat, soal ketidaksucian dan cara pensucian yang tepat.
7. ARDA VIRAF NAMEH, sebuah literatur dan sejumlah cerita – cerita fiksi
tentang kunjungan seorang pendeta tinggi ke surga dan neraka yang mirip dengan
isi cerita komedi perjalanan rohani Dante yang telah ditulis tiga abad lebih
awal.
8. BAHMAN YASHT, Menceritakan kemenangan – kemenangan dan penderitaan –
penderitaan yang dialami oleh para pengikut Zoroaster seperti penggambaran
pengalaman penindasan yang dialami oleh orang – orang muslim.
Ajaran – ajaran Zarathustra
Zarathustra adalah seorang manusia biasa, manusia yang bijak, seorang pendeta,
seorang guru dan seorang nabi. Beliau adalah pendiri ajaran baru. Beliau hidup
di masa animisme merajalela dan berbagai bentuk ibadah natural muncul.
Penyembahan terhadap matahari saat itu dianggap penting. Menurut sejarawan
Yunani, setelah merubah bentuk penyembahan kuno tersebut, beliau memperkenalkan
doktrin –doktrin yang dianggap rumit dan aneh. Beliau menyerukan bahwa
hubungan individu dengan Tuhannya secara langsung dapat diraih melalui sikap
bijak, bermoral dan rasa cinta bukan melalui pendekatan tak langsung lewat
mediator. Bahwa pengabdian/ dedikasi dan memberi pertolongan kepada sesama umat
manusia adalah lebih baik dari sekedar menyenangkan para pendeta dan para
bangsawan. Kalangan masyarakat agamis dari Iran Barat yaitu para Magis (berarti
pembesar), menentang beliau dan misinya karena Zarathustra tidak menyetujui
praktek – praktek keagamaan yang mereka lakukan. Beliau hanya berhasil menarik
simpati Raja Vistashpa dan memiliki akses ke istananya dan juga berhasil
membangun sebuah tempat ibadah sebagai penyempurnaan tugas suci yang diamanatkan
Ahura Mazda atau Tuhan Yang Maha Bijaksana melalui wahyu.
Prinsip awal ajaran Zarathustra berpusat pada Ahura Mazda yaitu Tuhan Yang Maha
Bijaksana karena Dialah Tuhan Yang Paling Tinggi dan Yang Maha Berdiri Sendiri,
satu –satunya Wujud yang patut disembah. Beliau sendiri menyembah Tuhan dengan
bentuk ritual sederhana yaitu mengangkat kedua tangan beliau dengan penuh
kekhusyuan dan sepenuh hati, dengan pemikiran baik, kata – kata baik dan
tindakan –tindakan baik dan cara seperti inilah beliau memerintahkan kepada
pengikutnya untuk berdoa. Beliau beriman dan mengingatkan kepada pengikutnya
untuk mempercayai bahwa Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi juga pencipta
materi dan pencipta dunia kerohanian. Dia adalah sumber pilihan antara yang
terang dan yang gelap, Pemegang Hukum Tertinggi, Pusat Alam, Yang Mengawali
Hukum Moral dan sebagai Hakim seluruh alam semesta.
Dia (Tuhan) dikitari dengan 6 atau 7 AMESHA SPENTAS, atau kedermawanan abadi
(seperti telah tersebut dalam Avesta). Ahura Mazda adalah pencipta mereka dan
Dialah sumber dari segala sumber. Berikut adalah kelebihan yang tak terpisahkan
dari Dia, ialah:
SPENTA MAINYU: ruh suci; ASHA VAHISHTA: keadilan dan kebenaran; VOHU MANAH:
pikiran benar dan ARMAITI atau SPENTA ARMAITI: pengabdian. Ada tiga sifat
lainnya yang tak terpisahkan dari kelompok di atas yaitu yang melambangkan sifat
–sifat baik Ahura Mazda sebagai berikut:
KHSHATHRA VAIRYA: memiliki kekuasaan terhadap apapun yang diinginkan;
HAURVATAT: melingkupi segala sesuatu; dan AMERETAT: keabadian.
Doktrin kedua tercakup dalam ajaran Zarathustra adalah dunia terbagi atas
kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kedustaan, ruh suci dan ruh perusak. Kedua
ruh tersebut secara eksplisit disebut ruh kembar yang selalu muncul
berdampingan. Zarathustra memperingatkan para pengikutnya kehidupan terbaik yang
seseorang dapat capai yaitu penyesuaian diri dengan ruh kebenaran, meski pada
setiap tahapannya dihadapkan dengan sebuah pilihan yang harus diambil. Ajaran
– ajaran Zarathustra tidak menarik ke arah dualisme kebaikan versus kejahatan
namun lebih ke arah pentingnya pilihan seseorang antara kedua hal tersebut.
Dengan memberikan perintah dan nasehat untuk memilih kebaikan, kebenaran, dan
kesucian ruh.
Doktrin Ketiga adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Bijaksana diberi
kebebasan dalam menjalankan kehidupannya, mereka bebas memilih yang benar atau
yang salah. Juga mereka bebas menjalankan kerohanian atau keduniawian.
ANGRA MAINYU, adalah ruh perusak yang memilih bertindak buruk karena dia telah
dianugerahi kebebasan memilih. Begitu juga DAEVA – DAEVA atau dewa –dewa
kuno, yang penyembahan terhadap mereka terkait dengan kekerasan. Zarathustra
menganggap hal tersebut sebagai kekuatan iblis.
Doktrin keempat ajaran Zarathustra adalah seseorang diberi kebebasan mengatur
tindakan – tindakannya berdasar pada keinginannya sendiri, dia sendirilah yang
bertanggung jawab atas keseluruhan nasibnya. Dia sendiri yang mengumpulkan
ganjaran abadi atas tindakan – tindakan baiknya. Juga halnya dengan para
pelaku kejahatan, dia akan ternista dengan konsokuensinya sendiri . Keadilan
Tuhan pun berlaku sama yaitu menghukum dan memberi siksaan abadi di neraka,
suatu keberadaan terburuk.
Doktrin kelima, simbol terluar/ zahir kebenaran adalah API dimana keberadaan
api ini dilibatkan dalam peribadatan dan penyembahan keagamaan yang dilakukan
oleh para pengikut ajaran Zoroaster. Altar api menjadi pusat tempat pemujaan
orang – orang Zoroaster. Zarathustra menegakkan kebenaran misinya dengan
memberikan hukuman api dan baja yang dicairkan yang kelak di hari akhir pun
dipercaya dengan api dan baja cair inilah manusia akan dihukum.
Para pengikut Zoroaster umumnya dijuluki penyembah api dan dinamai demikian
karena Zarathustra sendiri menghormati elemen ini sebagai elemen yang memiliki
kekuatan kebenaran. Gathas berbicara tentang api langit digunakan sebagai ujian
pada hari peradilan nanti. Gathas mengatakan bahwa api ini bukan berarti api
secara fisik namun merupakan api rohani dan api terpendam yang bersinar dengan
terang di hati setiap para pengikut Zoroaster yang saleh. Disebutkan pula bahwa
Zarathustra melakukan perjalanan ke seluruh dataran tinggi di Iran selama
bertahun – tahun, beliau menyebarkan ajaran terang dan memanggil manusia untuk
melawan kejahatan dengan cahaya terang dan melawan iblis dengan kebaikan,
memerintahkan untuk menyembah Ahura Mazda dan menolong – Nya mengalahkan Angra
Mainyu yaitu tuhan kegelapan. Beliau setiap saat membawa serta kubah api (suatu
penggambaran yang muskil). Pada saat kewafatannya, beliau meninggalkan sebuah
rantai pusat pemujaan kepada Ahura, yang masing – masing lingkarannya memiliki
api abadi. Karena hal inilah penilaian tak adil ditujukan terhadap para
pengikutnya dengan menyebut mereka penyembah api.
Pada akhirnya saya ingin mengemukakan beberapa paragraf dalam scripture/
tulisan suci para penganut Zoroaster terdiri dari beberapa hymne ( pujian )
Zarathustra yang telah diterjemahkan oleh seorang sarjana praktisi penganut
ajaran ini yaitu Mr. Taraporewala;
“ Sesungguhnya aku percaya kepada – Mu wahai Mazda, sebagai pemberi
rezeki yang paling mulia.
Karenanya aku mempercayai – Mu sebagai penyebab utama semua penciptaan,
Karena kepandaian sempurna – Mu memberi pahala atas semua perbuatan baik.
Kebaikan untuk pelaku kebaikan, kenistaan bagi pelaku kejahatan hingga hari
akhir penciptaan (Yasna 43.5).
Apa – apa yang diajarkan orang- orang yang taat kepada – Mu adalah ini
:
Bahwa yang paling patut diminta pertolongan adalah Engkau,
Hakim Suci atas semua amal perbuatan, Raja Kebenaran
Misteri – misteri kehidupan terbentuk karena kehendak – Nya.
Pencipta munculnya bumi;
Kami akan berusaha keras untuk mengungkapkan misteri – misteri ini
melalui cinta ( Yasna 46.9 )
Sejak awal penciptaan dua ruh ini, keduanya muncul bersamaan. Inilah
kebaikan dan kejahatan baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Antara dua ini biarkanlah yang bijak memilih kebenaran: menjadi baik bukan
melakukan tindakan rendah. ( Yasna 30.3 )
Wahai Penyebab Kematian, buatlah hukum – hukum ini.
Hukum – hukum yang Telah Tuhan Yang Maha Bijaksana tetapkan untuk
mencapai kebahagiaan atau penderitaan,
Hukuman panjang untuk para pengikut kejahatan dan beberkatlah para pengikut
kebenaran,
Berkat keselamatan adalah untuk pengikut kebaikan selamanya! (Yasna 30.11)
Mereka yang pernah hidup, mereka yang sedang hidup dan mereka yang kemudian
akan hidup,
Akankah satu dari antara keduanya menghargai apa yang Dia perintahkan!
Ruh kebaikan akan berada dalam keabadian nikmat,
Namun yakinlah ruh pendusta akan berada dalam penderitaan,
Dan inilah hukum yang yang telah ditetapkan oleh Ahura Mazda yang
memerintah dengan kekuasaan – Nya yang tak terbatas. (Yasna 45.7)
Semua pikiran dan perkataan maupun perbuatan manusia akan menghasilkan buah
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam hukum abadi – Mu,
Keburukan bagi para pelaku keburukan keberkatan kebaikan untuk pelaku
kebaikan. Demikianlah kearifan demikian juga hukum itu berlaku hingga akhir
masa. (Yasna 43.5)
Wahai para pendengar kebaikan terapkanlah kebaikan dalam kehidupanmu dan
ruh penyembuh dari Tuhan Yang Maha Bijaksana akan didapatkan;
Sebarkanlah ajaran – ajaraan kebaikan Ahura, perkataan – perkataan –
Nya akan memberikan pengaruh dan meyakinkan;
Wahai Mazda, dengan kilatan terang benderang api – Mu tempatkanlah itu
kepada setiap manusia terpilih. (Yasna 31.9)
Sungguh aku menghargai – Mu sebagai Yang Maha Kuat dan Pemberi Rezeki,
wahai Madza!
Dengan tangan dermawan – Mu Engkau tawaran pertolongan yang sama baik
para pelaku kebaikan maupun para pelaku kejahatan.
Di dalam bara api – Mu yang sangat luar biasa terdapat kebaikan, energi
kebaikan telah datang kepadaku, wahai Madza. (Yasna 43.4)
Dengan ruh suci –Mu ini tandailah takdir kami, wahai Mazda Ahura,
Ganjaran kami pahala api – Mu akan diberikan
Seperti halnya armaity dan Asha yang tumbuh di dalamnya,
Para pencari akan dibimbing melalui jalan – Mu. (Yasna 47.6)
Kedua golongan ini yakni kebenaran dan kedustaan, ditempatkan sebagai ujian
Wahai mazda, dengan kilatan api rohani – Mu;
Ujian bara api ini menyingkap jiwa – jiwa terdalam mereka
Kekecewaan penuh akan didapatkan para pelaku kejahatan,
Sedangkan keberkatan penuh akan diraih para pelaku kebenaran. (Yasna 51.9)